Counting Down. 14 Weeks Left.

I am here. Stuck in the middle of those thousand words.

Advertisements

Putar Balik Tema Skripsi

Halo, maaf cukup lama tidak menulis sesuatu di blog ini. Beberapa hari ini sedikit disibukkan oleh tugas akhir yang harus diselesaikan Juni ini. Ya skripsi. Seperti yang telah kuceritakan di postingan lalu, aku akhirnya memilih topik pengadaptasian Novel Die Wolke menjadi komik dengan judul yang sama. Setalah cukup banyak mendata perbedaan-perbedaan yang muncul antara novel dan komiknya, dengan semangat menggebu, aku bertemu dengan dosen pembimbing untuk konsultasi. Dan ternyata hasilnya diluar dugaan. Aku diminta untuk mencari tema baru, karena tema tersebut dianggap terlalu sastra, sedangkan aku mengambil peminatan linguistik dan terjemahan. Aku sempat diam sejenak untuk mencerna hal tersebut. Tidak bisa berkata. Sedih karena aku sudah suka sekali dengan tema pengadaptasian itu dan juga sudah mendapatkan gambaran serta hipotesis hasil akhirnya. Namun, akhirnya dosenku membuka jalan lain. Dia memberi saran untuk meneliti buku “Fakta Mengenai Jerman” yang diterjemahkan dari buku “Tatsache über Deutschland”.

Melalui buku ini, Kedutaan Jerman untuk Indonesia mencoba memperkenalkan Jerman, mulai dari sejarah, kebudayaan, masyarakat, sistem pemerintahan sampai ke politik. Menarik sekali! Namun sayang setelah membaca buku tersebut, aku sedikit kurang mengerti maksud yang ingin disampaikan karena terjemahannya sedikit tidak terbaca. Oleh karena itu, aku disarankan untuk meneliti ketidakterbacaan tersebut. Ya, kembali ke tema besar awal: Penerjemahan! Aku memulai dengan melihat terjemahan-terjemahan mana yang tidak sepadan dan tidak terbaca, kemudian data-data tersebut akan dibuat angket yang diisi oleh mahasiswa Sastra/Bahasa Jerman di Pulau Jawa. Jadi, untuk seluruh Indonesia terdapat 10 Universitas (CMIIW), dan di Pulau Jawa sendiri ada 6 Universitas yang terdapat Jurusan Sastra/Bahasa Jerman, yakni Universitas Indonesia, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Padjajaran, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Negeri Yogjakarta, dan Universitas Negeri Surabaya. Nah, dari hasil angket tersebut, data-data yang ilmiah dan valid baru dapat aku analisis menggunakan teori-teori penerjemahan. Jadi, hal yang akan aku analisis sangat bergantung dari hasil angket. Semoga saja, hasilnya sesuai dengan yang aku harapkan (sesuai dengan hipotesis) supaya dapat menjalankan penulisan skripsi ini dengan lancar. Aamiin. Doakan aku menyelesaikan angket dan pendataan ulang sebelum Maret ya!

Awal Perjalanan Skripsi

Halooo,

Seharusnya postingan ini letaknya sebelum postingan “KAI, Kereta dan Pedagang”. Tetapi, ntah kenapa postingan ini tiba-tiba hilang, bahkan di draft pun tidak ada. Hmm, tidak apa, akan ku-post lagi karena postingan ini cukup penting untuk merekam perjalanan semester akhir aku kuliah.

Kemarin aku disibukkan oleh skripsi. Hal yang membuatku dilema semester kemarin: apakah sebaiknya aku skripsi tetapi aku takut tidak dapat menyelesaikannya atau non skripsi tetapi nanti lanjut S2-nya susah karena terbatas, tidak semua universitas dan jurusan menerima mahasiswa yang tidak menulis skripsi. Akhirnya Desember kemarin, aku telah memantapkan hati untuk menulis skripsi sebagai masterpiece hasil kuliah empat tahun di Sastra Jerman UI. Aku memilih linguistik sebagai bidang yang akan aku analisis. Selain karena melihat nilai-nilaiku, aku memang menyukai linguistik, terutama mengenai tata bahasa. Awalnya aku sempat bingung dan ragu dengan tema yang telah kupilih pada saat kuliah Metodologi Penelitian semester 6 kemarin (untuk mengetahui tema aku itu, sila lihat posting 2012: My Year) karena aku merasa kurang sreg dan juga data pendukung yang tidak banyak. Takutnya bila tidak klik di hati, aku malah ogah-ogahan untuk menyelesaikan skripsinya. Oleh karena itu, akhirnya aku banting setir ke tema yang jauh berbeda tetapi masih di bidang linguistik juga, yakni Pengadaptasian Novel ke dalam Komik. Aku mendapat inspirasi untuk beralih ke tema ini ketika aku sedang mengunjungi perpustakaan Goethe. Disana tiba-tiba sebuah buku bersinar dari kejauhan. Ketika aku dekati, rupanya itu sebuah komik adaptasi dari novel yang cukup fenomenal karangan Gudrun Pausewang: “Die Wolke”. Dan cringg, tema itu muncul di kepala. Alhamdulillah.

Siang kemarin, aku bertemu dengan dosen pembimbingku untuk menanyakan apakah tema yang aku pilih tersebut dapat dilanjutkan atau sebaiknya aku pilih tema yang lain saja. Degdegkan sekali. Aku sampai berulang kali salah mengucapkan kata adaptasi menjadi adatasi akdatsi saking gugup (dan segan) dengan pembimbingku tersebut. Hahaha! Dan alhamdulillah aku mendapatkan lampu hijau untuk meneruskan penelitian mengenai topik tersebyt. Ia juga memberikan masukan mengenai buku-buku yang harus aku baca, teori yang harus aku pelajari, fokus penelitian dan analisis apa yang harus aku lakukan di tahap pertama. Ahh, senang sekali rasanya!

Sepulang dari menghadap dosen pembimbingku, aku menuju perpustakaan Goethe Institut untuk mencari korpus data yang kurang dengan tergesa-gesa karena saat itu waktu telah menunjukkan pukul 16.30 sedangkan perpustakaan tutup pukul 19.00. Namun, ternyata kereta lagi bermasalah akibat ditutupnya rel di Stasiun Pondok Cina (mengenai masalah lebih lanjutnya bisa dibaca di postingan sebelum ini). Mau marah sebenarnya, tetapi akhirnya aku memilih ikhlas dan menerima “gangguan” tersebut sebagai ujian pertama untuk melihat keseriusanku terhadap skripsi ini. Untungnya tidak lama kemudian, kereta arah Bogor yang tertahan di Stasiun UI dipindahkan ke rel arah Jakarta, dan aku dapat sampai di Goethe kurang dari 1 jam. Dan beruntungnya lagi, novel yang aku cari sedang tidak dipinjam sehingga aku dapat langsung meminjamnya dan kembali lagi ke Depok untuk memfotokopinya di Cano agar mirip seperti buku aslinya, dan bisa dicoret-coret warna-warni. Dan voila, inilah buku-bukunya:

(foto menyusul, bukunya ketinggalan, hehe)

Di perjalanan pulang, kereta yang aku tumpangi penuh sekali, dampak dari gangguan tadi siang. Mungkin bila aku sebuah kaleng, keluar dari kereta aku sudah gepeng dan penyok. Akan tetapi, lagi-lagi aku tanggapi masalah tersebut sebagai ujian  dalam proses “penyekripsian” ini, hehe.

Walaupun badan lelah dan otok kencang karena harus bolak balik Jakarta-Depok, tetapi aku senang sekali akhirnya aku bisa memulai skripsi ini. Aku semangat sekali untuk menyelesaikan Bab I dan analisis data sebelum liburan berakhir. Aku yakin aku bisa menyelesaikan masterpiece ini dengan baik dan tepat waktu. Bismillah.

2012 Stories

Setelah sekian lama dan berkali-kali berniat ngeblog lagi tapi ga jadi mulu padahal banyak banget yang mau diceritain soalnya tahun ini tahun yang sangat panjang dan super sekali, akhirnya hari ini dan jam ini aku menguatkan niatku tersebut. Banyak sekali rencana dan keinginanku terwujud satu persatu. Bahkan ada yang diluar rencana. So, let me recall my memories what has happened over the last 8 months:

Januari – alhamdulillah aku dikasih kesempatan dari jurusan untuk ikut “Die Erste Südostasiatische Sommeruniversität der Germanistik 2012” atau nama mudahnya Sommeruni. Kegiatan ini diusulkan dan direncanakan oleh DAAD (Deutscher Akademischer Austausch Dienst) bekerja sama dengan IGV (Indonesischer Germanistenverband). Kebetulan ketua IGV itu salah satu dosenku, jadilah acara ini diadakan di Universitas Indonesia dari tanggal 19 Januari – 26 Januari 2012. Tapi sebulan sebelum itu, aku udah sibuk bantuin acara ini, mulai dari ngehubungin sampe ngurusin tiket dan jadwal kedatangan peserta-peserta yang lain. Ya bisa dibilang kerja dobel, peserta plus panitia. Selama hampir 10 hari, aku dan peserta lain tinggal di Padepokan Pencak Silat TMII. First impression masuk padepokan ini “Buset, ini tempat horor banget! Liftnya aja kaya di film-film horor, untung lampunya terang.” Tapi pikiran jelek itu segera berakhir soalnya empat teman sekamar aku kocak dan seru. Mereka adalah *drum roll* Jacqui dari Filipina, Maya dan Febby dari Malang (Febby sebenernya orang Palembang juga loh!), dan Jao (bacanya cha-o) dari Thailand. Setiap malem kita selalu belajar bahasa masing-masing. Dan dari sini aku baru tau kalo bahasa Indonesia sama Tagalog (Filipina) itu agak mirip! Sayang aku lupa apa aja gara-gara ga dicatet, huhu. Hanya satu sapaan tagalog yang masih melekat di otak “Magandang Umaga!” (Selamat pagi!). Selain empat orang itu, aku juga dapet 50an lagi teman baru dari berbagai negara, bahasa dan budaya: Malaysia, Thailand, Laos, Vietnam, Filipina, Medan, Bandung, Jogja, Malang, Surabaya, Makasar, Manado, dan Maluku! Senangnyaaaa! Disini bener-bener diasah kemampuan bahasa Jermannya, soalnya kami hampir 24 jam harus ngomong bahasa Jerman, mulai dari bangun tidur sampe mau tidur lagi. Untung aja mimpinya ga ikut-ikut ngomong Jerman. Tapi aku mengalami hal yang aneh, setelah seminggu ikut acara ini, pas nonton TV yang notabenenya berbahasa Indonesia tapi aku malah denger mereka ngomong pake Bahasa Jerman. Bukan aku aja yang ngalamin keanehan ini, tapi Oli, temenku yang ikutan ini juga dari UI, mengalami hal yang sama. Hmm, fenomena apakah ini?

Image

Februari – tepat tanggal 1 Februari aku bersama lima orang temanku yang lain memulai perjalanan panjang 14 hari kami mengelilingi “sebagian kecil” Asia Tenggara setelah menunggu dengan sabarnya selama 8 bulan. Ada siapa saja yang ikut? Seperti biasa my best travel mate ever Olivia!, Gege, Kacika, Melda dan kakaknya Sakti. Kita memulai perjalanan ini di Changi Airport Singapore lalu lanjut ke Malaysia dengan cara “ngeteng”. Jadi kita naik bis biasa ke Johor Baru baru lanjut ke Kuala Lumpur naik bis benerannya (baca: nyaman dan empuk). Dengan cara ini kami bisa menghemat pengeluaran kurang lebih 200rb, lumayan banget kan? Berhubung nyampe KL udah larut malem, jadinya kita nginep di terminal. Tapi tunggu dulu, terminalnya bagusnya kebangetan udah kaya bandara aja: bersih, nyaman, dingin (kedinginan malah!). Besoknya kita naik pesawat lagi ke Hatyai, salah satu kota di selatan Thailand, untuk menghemat waktu. Begitu masuk Thailand, rasa-rasanya kaya balik ke Indonesia lagi. Muka-mukanya mirip, situasinya mirip yang beda cuma bahasa dan suara mereka itu loh, hmm sedikit… cempreng. Kami menempuh perjalanan panjang dari Hatyai ke Bangkok dengan kereta ekonomi yang bener-bener mirip ekonomi di Indonesia selama 12 jam. Iya, 12 jam! Pantat udah tepos makin tepos deh. Abis kejadian itu, aku sama Kacika memutuskan untuk pulang dengan Sleeping Train walopun duit makin menipis, haha. Selama di Bangkok kita nginep di hostel di daerah Khao San Road, setipe sama Bangla Road di Phuket. Kalo cari nightlife ya disana. Jadi, tiap malem lulaby kita lagu-lagu club dengan volume maximal. Untungnya aku orang yang ga peduli sekitar kalo udah ngantuk, jadi ga ngerasa keganggu, hehe. Selama di Bangkok, kami punya guide yang baik hati dan cantik pula: Kaewta dan Ann, temen Sommeruni-ku! Merekalah yang dengan setia menemani lima hari kami selama di Bangkok. Satu hal yang bikin aku kagum sama Thailand, terutama Bangkok, adalah keseriusan mereka terhadap pariwisata. Objek-objek pariwisata di Bangkok itu bener-bener dirawat, petunjuk-petunjuknya jelas, dan BERSIH! Mereka juga sangat cinta dan menghargai negara serta sejarah-sejarahnya terlihat dari peninggalan-peninggalan bersejarahnya yang masih terawat. Sedih kalo inget Indonesia, padahal sebenernya Indonesia bisa lebih baik loh. Tapi, lebih sedih lagi kalo inget ga bisa berbuat apa-apa buat ngubah itu, hmm.

Oh iya, ada yang kocak selama disana. Berhubung muka kami mirip sama orang Thailand, jadilah muncul niat licik untuk menghemat pengeluaran, yakni dengan berpura-pura jadi orang Thailand dengan bantuan Kaew dan Ann sewaktu mau masuk Grand Palace. Dan… berhasil! Alhamdulillah jadi 150rb untuk entrance fee bisa dipake buat yang lain. Tapi pas sorenya, kita pengen nyoba lagi pake cara yang sama pas mau masuk candi yang lain tapi tanpa Kaew dan Ann. Hasilnya gagal total, HAHAHAHAHA! Untung aja ga didenda cuma disuruh beli tiket. Ga lagi-lagi deh curang.

Salah satu hal yang ngangenin dari Bangkok itu Roti Matabak letaknya ga jauh dari Khao San Road, semacam martabak tapi pake kari hijau thailand yang pedes tapi enaknya luar biasa! Kalo ada kesempatan kesana lagi, aku mau balik dan makan itu sepuas-puasnya. Aamiin!

Tiga hari terakhir kami habiskan di Singapura. Kenapa Singapura terakhir? Soalnya nilai tukar valas-nya cukup tinggi dan living costnya… selangit! Bisa-bisa uang buat 14 hari habis duluan. Tapi, aku jatuh cinta dengan Singapura. Keteraturannya, kebersihannya, keindahannya, MRT-nya, ah Singapura! Sempet terlintas untuk kerja disana gara-gara itu.

Image

Maret, April, Mei – apa yang terjadi di bulan-bulan ini ya? Hmm. Oh ya, aku mulai ngajuin tema skripsi di semester 6 ini. Beberapa tema yang aku ajuin, mulai dari kata serapan latin dalam bahasa Jerman, puisi Nietzsche, dan Rilke, ditolak karena dianggap tidak dapat dilakukan oleh mahasiswa S1. Sempet putus asa dan males mikir lagi gara-gara itu. Tapi untung pas ke Perpus Goethe, aku menemukan buku menarik, yakni tentang kolokasi dan penerjemahan. Apa itu kolokasi? Ah tidak perlu kujabarkan sekarang *ditoyor. Alhamdulillah tema “Kolokasi dalam Penerjemahan Buku Die Weisse Bluette im gelben Fluss” akhirnya diterima. Walaupun sekarang aku ragu terhadap tema itu.

Alhamdulillahnya lagi, tahun ini, 17 April 2012, aku punya keponakan cantik bernama Ayesah Nadra Didrika. Nadra lahir dengan berat 1,8 kg dan tinggi 47 cm di Kemang Medical Care. Kecil banget, ya? Tapi sekarang udah 4,41 kg loh, udah gendutan dan tembem pipinya. Mata si Nadra ini belo banget ditambah ekspresinya kalo melongo, ah gemessss! Sekarang dia udah bawel teriak-teriak kalo mulai bosen. Cara nenanginnya adalah dengan menggendong dia ke luar kalo ga ajakin baca buku. Serius, Nadra suka banget baca buku. Tiap diajakin baca buku, ekspresinya langsung berubah, matanya belo makin belo mulutnya nganga, pokoknya lucu deh. Ah, tante kangen kamu Nadra sayang, maaf ya semester ini ga bisa sering-sering sama kamu, huhu. (maaf ga bisa masukin foto Nadra soalnya di laptop ini ga ada).

Hal lain yang menarik di bulan-bulan ini adalah aku mendaftar Kuliah Kerja Nyata Universitas Indonesia (K2N UI). Proses untuk menjadi seorang peserta K2N ini cukup panjang dan ngejelimet. Pertama, aku harus ngumpulin esai tentang daerah yang ingin dituju, jadilah aku bikin tentang Maratua. Keren banget pemandangan disana dan kebetulan ada hal yang menyangkut Jerman di daerah tersebut. Alhamdulillah lolos tahap seleksi esai, lanjut ke seleksi wawancara. Tahukah kamu aku harus nunggu berapa lama sampe giliran aku dipanggil? 5 jam! Ngantri dari jam 1 kurang, dapet nomor urutan ke 32 dari 14. Pas mau magrib baru dipanggil, blah! Aku diwawancarai oleh mba Uci yang denger-denger sangat disiplin dan tegas serta pandai mematahkan semangat orang. Dan benar saja, semangatku abis pulang wawancara langsung di titik 0 atau bahkan -50. Melihat hasil wawancara itu, aku jadi putus asa sama hasilnya. Tetapi Allah berkehendak lain (asik!), alhamdulillah aku lolos tahap wawancara dan tinggal tes fisik dan mental di Marinir. Sebelum ke marinir, kami terlebih dahulu mendapat briefing dari panitia dan alumni K2N tahun-tahun sebelumnya. Dari situ, aku tahu bahwa aku masuk ke dalam Program Rumah Kreatif. Rumah Kreatif (RK) merupakan wadah untuk berkumpul bagi masyarakat setempat serta berbagi ilmu. Selain sebagai wadah berkumpul, RK juga membuat perpustakaan mini. Buku-buku ini dikumpulkan dan disortir selama kami masih di Depok. Kurang lebih sekitar 3000an buku, kami sortir dan katalogkan.

Juni, Juli – 13 Juni 2012 aku bersama para (calon) peserta K2N UI lainnya kalo kata pihak marinir sih mengikuti “Bina Fisik dan Mental”, tapi kalo kata Yang Mulia itu “Tes Fisik” untuk menjadi dapat menjadi peserta. Selama 7 hari, kami digembleng dan digosongkan di Marinir Cilandak. Seru dan sehat banget. Bangun pagi jam setengah 5, solat subuh, lari pagi, mandi, makan, pelatihan dari pagi sampe sore, olahraga sore, makan, tidur. Pokoknya hidup teratur banget. Oh iya, prosesi makan disana sesuatu banget. Makan makanan 4 sehat 5 sempurna dalam waktu kurang dari 5 menit. Bayangin makan nasi seabrek, daging/ayam/telor/tempe, sayuran, sambel, buah tanpa dikunyah tapi langsung ditelen dengan bantuan air. Hari pertama, kedua, ketiga masih ngos-ngosan, tapi hari-hari selanjutnya mulai terbiasa. Kebiasaan makan cepet dan banyak itu malah kebawa selama di desa, HAHAHA!

Apa saja yang terjadi selama tanggal 19 Juni – 23 Juli akan diceritakan di postingan yang lain karena hal tersebut sangat luar biasa dan perlu cerita panjang. Jadi sabar ya!

Agustus – puasa! Alhamdulillah masih dikasih kesempatan oleh Allah untuk berpuasa kembali. Puasa kali ini penuh berkah. Salah satu alasannya adalah aku menemukan pasanganku di puasa ini. Seneng? Banget! Ga nyangka soalnya bisa jadi sama dia. Inisialnya GRDH. Am totally in love with him. Cerita selengkapnya harus aku tulis di postingan tersendiri karena dia spesial maka postingannya juga harus spesial kan? Hehe.

Jadi, bisa dibilang tahun ini tahun pendewasaan aku juga. Kalau tahun lalu orientasiku masih di seputar traveling dan jalan-jalan (bedanya apa coba?), sekarang udah mulai mikir gimana jalan ke depan, apa yang harus dicapai sebelum dan setelah lulus kuliah. Ah, sekarang aku sudah di tahun keempat di UI. Ini tahun terakhir, insyaallah, menikmati masa-masa males kuliah, begadang ngerjain tugas, ketawa dan nangis bareng temen-temen, stres dan bosen tugas-tugas yang berbahasa bahasa Jerman, tahun terakhir bisa spekun-an. Sedih sih, tapi ya inilah life cycle. Hmm.

Di tahun terakhir ini, aku harus menyelesaikan dan mencapai rencana-rencanaku yang lain. Tidak boleh menyia-nyiakan tahun ini. Aku harus lulus dengan kenangan indah, insyaallah! 🙂