Earth Hour, Simbolisasi?

Tahun 2012 silam, PLN menghabiskan sebesar 8,2 juta kilo liter BBM untuk menghidupkan jutaan rumah di Indonesia. Berkurang memang dari tahun 2011 11,8 juta kilo liter, tetapi angka tersebut masih cukup tinggi karena belum termasuk dengan pembangkit listrik dari sumber-sumber lain. Penggunaan BBM dengan jumlah yang sangat besar tersebut membahayakan lingkungan karena menghasilkan emisi gas rumah kaca yang besar pula sehingga dapat berdampak pada pemanasan global.
Pemborosan listrik terjadi akibat tidak peduli serta acuhnya masyarakat akan penggunaan listrik. Mereka berpikir bahwa mereka membayar listrik tersebut sehingga dapat menggunakan listrik semaunya. Padahal bila dihemat penggunaan listriknya, maka mereka tidak hanya membantu mengurangi emisi gas rumah kaca saja, tetapi juga dapat menghemat pengeluaran mereka sendiri. Oleh karena itu, untuk menyadarkan masyarakat, sebuah organisasi lingkungan mempelopori sebuah gerakan penghematan listrik yang bernama Earth Hour.

Earth hour merupakan sebuah kampanye untuk mematikan segala peralatan listrik selama 1 jam yang digerakkan oleh WWF. Tujuan dari kampanye ini adalah untuk mengajak masyarakat mengurangi konsumsi listrik. Kampanye Earth Hour ini dimulai pertama kali di Sydney Australia pada tahun 2007. Kemudian pada tahun 2008 menyebar ke seluruh dunia, dan Indonesia bergabung dalam kampanye ini pada tahun yang sama. Tahun 2012 lalu saja, 6950 kota di 152 negara di dunia ikut serta menyebarkan semangat tersebut.
Tahun 2013 ini, Earth Hour, dilaksanakan pada tanggal 23 Maret. Di Indonesia, khususnya di Jakarta, kampanye diadakan di Taman Tugu Proklamator yang diisi dengan beberapa acara, antara lain penampilan music serta pameran dari berbagai macam komunitas yang bergabung. Acara tersebut berlangsung meriah dan diikuti ratusan orang. Menurut data yang dikeluarkan oleh Earth Hour Indonesia, kurang lebih 75.000 liter BBM, atau setara dengan 236 Mega Watt, dihemat dari penggunaan listrik di Indonesia pada Sabtu 23 Maret tersebut. Angka yang cukup fantastis ya!

Bundaran HI gelap ketika Earth Hour source: http://www.metrotvnews.com

Namun, bila Earth Hour hanya dilakukan setahun sekali tanpa ada keberlanjutan, maka kampanye ini hanya sekedar simbolisasi saja. Masyarakat yang ikut serta tidak mendapatkan esensi yang dimaksud dari kampanye ini. Mereka hanya melakukan kegiatan 1 jam tanpa listrik karena Earth Hour sedang jadi trend dan bila tidak ikut maka tidak keren. Bagus memang, tetapi sejatinya mereka dapat meneruskan kegiatan tersebut di hari-hari lain dengan kesadaran sendiri tanpa embel-embel Earth Hour karena itu adalah tujuan dari kampanye tersebut. Oleh karena itu, mari jadikan Earth Hour sebagai momentum perubahan untuk lingkungan yang lebih baik!

Advertisements

Akses Informasi Publik

Dewasa ini beredar isu kandungan lemak babi di salah satu jenis minuman. Walaupun saya tidak mengkonsumsi minuman tersebut, tapi saya penasaran dan ingin memastikan kebenarannya. Saya mencoba mencari data-data mengenai kode makanan yang mengandung babi di web. Saya berharap sekali mendapatkan sumber terpercaya dari web pemerintah yang menangani masalah tersebut, yaitu BPOM. Namun, kecewa yang didapat. Tak satupun web resmi yang berisi data kode makanan terkait muncul. Laman yang banyak muncul malah dari website pribadi atau blog. Sedih. Padahal dimana lagi kita dapat mengkonfirmasi kebenaran isu-isu yang sering muncul di masyarakat. Apakah masyarakat sengaja dibiarkan dalam kondisi telinga tersumpal dan tidak tahu apa-apa? Apakah masyarakat tidak boleh tahu kebenaran yang nyata? Sangat baik bila informasi-informasi penting seperti itu dapat diakses dengan mudah oleh publik sehingga masyarakat tidak mudah terpedaya pada isu yang beredar.

Fenomena Perbedaan Cuaca, Anomalikah?

Pertengahan Januari lalu, seperti yang kita ketahui, beberapa titik di Jakarta tergenang akibat luapan air yang tidak dapat lagi di tampung tanah. Tinggi luapan itu tidak bisa dikatakan rendah, karena di beberapa titik tingginya mencapai  3 meter. Cukup untuk menenggelamkan  rumah sampai ke atapnya. Seperti yang telah kujelaskan di postingan beberapa minggu lalu, luapan tersebut terjadi akibat curah hujan yang turun di daerah Jakarta dan sekitarnya sangat tinggi, serta daya serap tanah terhadap air sangat rendah. Keadaan tersebut berbanding terbalik dengan kondisi di Nusa Tenggara Timur. Di saat yang bersamaan, NTT, lebih tepatnya di Kabupaten Timor Tengah Selatan, mengalami kekeringan yang sangat parah. Masyarakat disana terancam kekurangan gizi karena petani gagal panem akibat kekeringan yang sangat panjang.

Perbedaan keadaan cuaca tersebut membuatku penasaran. Dengan letak yang tidak terlalu jauh, kondisi Jakarta – Nusa Tenggara tidak akan berbeda jauh pula, seharusnya. Rasa penasaran itu akhirnya terjawab ketika aku menanyakan pada Pak Sobirin, seorang dosen yang kompeten di perikliman.Menurut dia, yang telah aku rangkum sesuai pemahaman, kejadian tersebut akibat dari fenomena global yang sedang terjadi pada saat itu.

Ketika pergantian tahun, antara Desember 2012 dan Januari 2013, terjadi perbedaan cuaca yang sangat ekstrim di kedua belahan dunia. Di belahan dunia utara, terjadi gelombang dingin yang sangat ekstrim. Suhu di Moskow biasanya paling rendah pada titik -40an derajat celcius, kemarin suhunya mencapai -50 derajat celcius. Sungai Han di Korea Selatan biasanya pada musim dingin tidak pernah membeku, tetapi saat itu membeku. Gelombang dingin ini menyebabkan tekanan udara semakin tinggi. Sedangkan belahan bumi bagian selatan mengalami gelombang panas yang sangat ekstrim dengan tekanan udara yang sangat rendah.

Perbedaan tekanan udara yang sangat tinggi ini menyebabkan angin bergerak ke arah selatan, ke tekanan rendah, dengan membawa hujan frontal linear dingin. Ciri hujan tersebut adalah curah hujannya tinggi, tetapi jangkauan hanya 100-150 km saja. Hal tersebut juga menyebabkan banjir yang terjadi di Pulau Jawa terjadi bergiliran, dimulai dari Banten, Jakarta, Cirebon dan seterusnya. Namun, di Nusa Tenggara akibat pengaruh gelombang panas yang cukup kuat dari Australia, maka awan yang mengandung hujan frontal linear dingin tersebut yang melewati Nusa Tenggara Timur tidak turun menjadi hujan. Oleh karena itu, disana terjadi kekeringan.

Begitulah kira-kira alasan mengapa terjadi perbedaan yang cukup signifikan antara dua daerah yang sama-sama terletak di Kepulauan Indonesia ini. Cukup menjawab, atau malah sangat menjawab sepertinya. Akan tetapi, sampai saat ini aku tidak tahu apakah fenomena tersebut disebabkan oleh perubahan iklim atau memang fenomena alam biasa yang terjadi secara siklus. Aku akan mencari tahu lebih lanjut semester ini, di kelas Fenomena dan Dampak Perubahan Iklim.

Jumat Sehat!

Renang berenang. Hari ini aku berenang bersama Olivia.

Kaki

Setelah mencari info mengenai lokasi kolam renang terdekat, akhirnya aku menemukan sebuah kolam renang di Kompleks BIN Pasar Minggu Baru, dekat sekali dengan tempatku! Tiket masuknya pun sangat terjangkau, hanya Rp20.000 untuk hari biasa dan Rp23.000 untuk hari libur. Namun sayangnya, kolam renang ini tidak buka setiap hari karena ada beberapa hari yang dipakai untuk dharma wanita BIN. Tidak apa, kan aku berenangnya palingan 1 minggu sekali.

IMAG5723

Ketika sampai di gerbang depan Masjid BIN, aku tidak melihat tanda ada kolam renang disana. Hanya terlihat sebuah TK dari kejauhan. Dalam hati, “Wah, jangan-jangan ini kolam renang kecil buat anak-anak”. Tapi ternyata aku salah besar!

kolam renang

Dengan luas kolam renang yang seperti ini, akhirnya otot bisep atau trisep lenganku dipergunakan juga dengan maksimal hari ini. 30 bolak balik cukup mengencangkan otot perut yang selama 3 bulan ini menggelambir. Tinggi kolam renangnya bervariasi, dari 50 cm sampai 300 m. Dari hobbit sampai troll bisa berenang disini.

Dan inii si Olivia, tidak di darat tidak di air, sama-sama diorientasi arah! Dia awalnya berada di sebelah kananku, eh tiba-tiba udah di sebelah kiri. Heran.

Olip

Saat kami berenang, ternyata anak-anak cimit-cimit lagi latihan berenang juga! Aaa lucuuu liat perut bulat mereka pake baju renang kyaaa.

Anak anak

Senangnya saat melihat perut mulai rata setelah berenang (padahal cuma khayalan belaka). Aku akan sering-sering kesini ah!

Jakarta Tenggelam?

Dapat kupastikan itu akan menjadi headline berita hari ini maupun besok. Ya, ibukota negaraku sedang kebanjiran. Hujan deras yang turun dalam kurun waktu yang cukup lama tidak lagi dapat diresap oleh tanah-tanah Jakarta yang sekarang kebanyakan tertutup beton. Aliran-aliran air pun sudah beralih fungsi menjadi tempat sampah. Air bingung kemana ia harus mengalir. Akibatnya, ia memilih untuk diam di atas tanah-tanah tersebut bersama ratusan(atau bahkan ribuan)-meter-kubik temannya yang lain. Ia bahkan tidak memilih-milih tempat. Istana Negara pun turut menjadi tongkrongannya. Ah malu rasanya!

Istana Negara banjir setinggi 30 cm
(sumber: kompas.com)

Ya, hari ini, 17 Januari 2013, Jakarta lumpuh. Siapa yang salah? Hmm, banyak orang menyalahkan pemerintah dan saling lempar tanggung jawab. Memang lebih mudah untuk menyalahkan orang lain. Akan tetapi, coba lihat di sekelilingmu. Lihat taman depan rumahmu, apakah sudah tidak ada lagi daerah resapan? Lihat selokan depan rumahmu, apakah ia sudah penuh dengan sampah? Coba ingat-ingat lagi, kapan terakhir kamu buang sampah pada tempat sampah? Atau mungkin kamu lebih mudah mengingat terakhir kali melempar sampah begitu saja ke jalanan, trotoar, jembatan penyebrangan, kereta dan lain sebagainya. Sadarkah kalian bahwa sampah-sampah tersebut dapat saja terbang terbawa angin, atau memang sengaja disapu, ke selokan dan mengalir ke sungai. Ya kamu tahu sendiri kan apa yang terjadi bila sungai penuh sampah.

Aku juga tidak menyalahkan banjir itu sepenuhnya salah dari sungai yang penuh sampah. Sistem drainase di Jakarta, menurut pengamatanku sebagai orang awam, juga memperburuk keadaan. Air-air yang tergenang itu tidak dapat mengalir karena beberapa selokan buntu, tidak mengalir kemana-mana. Hal tersebut menyebabkan air stuck. Bahkan di beberapa titik, aku melihat tidak terdapat selokan air. Aku tidak tahu, siapa yang bertanggung jawab terhadap keberadaan selokan air tersebut. Apakah pemilik lahan atau dinas PU?

Ah, sungguh kompleks masalah ini. Intinya sih, mari lihat sekeliling dan coba perbaiki hal-hal yang bisa diperbaiki. Jangan nunggu orang lain mulu. Semoga dari masalah ini, kita belajar bagaimana menghargai lingkungan. Salam lestari!

KAI, Kereta, dan Pedagang

Untuk mencari korpus data skripsi seperti yang telah dijelaskan di postingan sebelumnya, setelah selesai menghadap dosen pembimbing aku segera ke perpustakaan Goethe Institut karena melihat saat itu sudah pukul 16.30 dan perpustakaan tutup pukul 19.00. Namun, ketika aku sampai di stasiun ui, ternyata kereta tidak jalan karena adanya demo menuntut dialog akibat penggusuran sepihak sehingga rel di Stasiun Pondok Cina (Pocin) ditutup oleh massa dari jam 2 siang tadi. Tindakan tersebut, yang aku kutip dari beberapa teman di twitter, disebabkan oleh PT. KAI yang tidak mau berdialog dengan pedagang Kios di areal stasiun Pocin. Pihak KAI tidak memberikan surat pemberitahuan sebelumnya sehingga pedagang merasa tidak adil karena mereka telah berjualan disana bertahun-tahun. Kekesalan pedagang tersebut memuncak pada aksi penutupan rel jalur Jakarta-Bogor dan Bogor-Jakarta dari jam 14.00 sampai sore. Pedagang-pedagang tersebut dibantu oleh mahasiswa UI dan beberapa universitas lainnya.

Malam hari aku mendapatkan broadcast message yang memberi tahu bahwa sebaiknya tidak menggunakan kereta sampai waktu yang tidak ditentukan sebagai aksi solidaritas. Hmm, aku bukannya tidak peduli terhadap para pedagang yang digusur paksa, aku juga merasa bergantung dan perlu pada mereka. Akan tetapi, bila caranya begini simpatiku terhadap mereka akan berkurang atau malah hilang. Kereta itu angkutan massal dan ribuan bahkan ratusan ribu orang bergantung sama kereta, mulai dari pekerjaan, sekolah, keluarga dan banyak hal lainnya. PT. KAI mau naikin harga pun, masyarakat akan tetap menggunakan kereta karena mereka memang butuh itu. Jadi, rasanya tidak masuk akal bila meminta untuk tidak menggunakan kereta untuk sementara waktu. Apalagi aksi penutupan rel kemarin. Itu merugikan banyak pihak yang tidak tahu menahu dan tidak bertanggung jawab akan permasalahan tersebut. Bila memang ingin mengajak dialog, datangi kantornya, demo disana.

Aku tahu, bahwa kereta, penumpang dan pedagang tidak dapat dipisahkan. Kereta butuh penumpang, dan penumpang butuh kereta. Pedagang butuh pembeli, yang notabenenya adalah penumpang kereta, dan penumpang juga butuh pedagang. Ntah untuk mengganjal perut ketika lapar dan kereta tidak kunjung datang atau untuk memfotokopi berkas-berkas. Akan tetapi, bukankah kita sudah diajarkan di perguruan tinggi untuk menggunakan logika dan akal sehat? Bukankah perguruan tinggi telah membuka dan memperluas pemikiran kita? Bukankah kita sebagai mahasiswa tidak seharusnya membalas kekerasan, melainkan dengan pemikiran?