Another One Sweet Day

Sebelum terpaut jarak 600 km serta lautan, kami menikmati setiap detik untuk disyukuri berdua. Bogor kala itu menjadi pemersatu untuk kami berbagi tatapan manis, senyuman, kecupan hangat dan cerita.

_MG_9599

Mendung memang, hujanpun beberapa kali menyapa kami. Tak apa, hujan menambah keromantisan sabtu itu.

Path 2013-01-12 12_10

Guten Appetite!

Dua potong roti isi dan semangkuk fettuccini carbonara cukup meredakan nyanyian di perut kami. Ditemani sebotol teh madu buatannya. Ah, nikmat apa lagi yang kami dustakan?

_MG_9676 _MG_9726IMG_1736

6 jam lebih kami bermain bersama, mengelilingi Kebun Raya Bogor yang menyejukkan mata itu. Cerita, tawa. Kami cukup banyak mengabadikan momen disana, cukup untuk mengenang dikala rindu mendera.

IMG_1773

Terima kasih tuan atas hari yang menyenangkannya! Sabtu, 12 Januari 2012.

Note: picture number 1, 3, 4 credited to him!

Advertisements

Putar Balik Tema Skripsi

Halo, maaf cukup lama tidak menulis sesuatu di blog ini. Beberapa hari ini sedikit disibukkan oleh tugas akhir yang harus diselesaikan Juni ini. Ya skripsi. Seperti yang telah kuceritakan di postingan lalu, aku akhirnya memilih topik pengadaptasian Novel Die Wolke menjadi komik dengan judul yang sama. Setalah cukup banyak mendata perbedaan-perbedaan yang muncul antara novel dan komiknya, dengan semangat menggebu, aku bertemu dengan dosen pembimbing untuk konsultasi. Dan ternyata hasilnya diluar dugaan. Aku diminta untuk mencari tema baru, karena tema tersebut dianggap terlalu sastra, sedangkan aku mengambil peminatan linguistik dan terjemahan. Aku sempat diam sejenak untuk mencerna hal tersebut. Tidak bisa berkata. Sedih karena aku sudah suka sekali dengan tema pengadaptasian itu dan juga sudah mendapatkan gambaran serta hipotesis hasil akhirnya. Namun, akhirnya dosenku membuka jalan lain. Dia memberi saran untuk meneliti buku “Fakta Mengenai Jerman” yang diterjemahkan dari buku “Tatsache über Deutschland”.

Melalui buku ini, Kedutaan Jerman untuk Indonesia mencoba memperkenalkan Jerman, mulai dari sejarah, kebudayaan, masyarakat, sistem pemerintahan sampai ke politik. Menarik sekali! Namun sayang setelah membaca buku tersebut, aku sedikit kurang mengerti maksud yang ingin disampaikan karena terjemahannya sedikit tidak terbaca. Oleh karena itu, aku disarankan untuk meneliti ketidakterbacaan tersebut. Ya, kembali ke tema besar awal: Penerjemahan! Aku memulai dengan melihat terjemahan-terjemahan mana yang tidak sepadan dan tidak terbaca, kemudian data-data tersebut akan dibuat angket yang diisi oleh mahasiswa Sastra/Bahasa Jerman di Pulau Jawa. Jadi, untuk seluruh Indonesia terdapat 10 Universitas (CMIIW), dan di Pulau Jawa sendiri ada 6 Universitas yang terdapat Jurusan Sastra/Bahasa Jerman, yakni Universitas Indonesia, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Padjajaran, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Negeri Yogjakarta, dan Universitas Negeri Surabaya. Nah, dari hasil angket tersebut, data-data yang ilmiah dan valid baru dapat aku analisis menggunakan teori-teori penerjemahan. Jadi, hal yang akan aku analisis sangat bergantung dari hasil angket. Semoga saja, hasilnya sesuai dengan yang aku harapkan (sesuai dengan hipotesis) supaya dapat menjalankan penulisan skripsi ini dengan lancar. Aamiin. Doakan aku menyelesaikan angket dan pendataan ulang sebelum Maret ya!

Brownies Panggang!

Haloo, dua hari yang lalu aku mencoba resep baru: Brownies Panggang. Mumpung lagi di Palembang jadi ada oven dan mixer. Hehe. Ternyata bikinnya mudah banget loh, dan rasanya luar biasa. Nah, berikut bahan-bahan yang dibutuhkan:Image

200gr margarine

200gr dark cooking chocolate

3 butir telur

150gr gula pasir

120gr tepung terigu khusus kue

½ sdt garam

1 sdt vanili

Chocochips/kacang almond/kacang kenari/keju parut untuk hiasan

Cara memasak:

Baiklah aku akan menjelaskan cara memasaknya secara naratif ya. Jadi, pertama itu siapin dulu peralatannya: mixer, mangkok-mangkok, spatula, panci dan loyang. Timbanglah bahan-bahan yang diperlukan sesuai takaran agar hasilnya sesuai yang diharapkan. Kalo udah ditimbang dengan benar dan hasil jadinya tidak sesuai harapan, ya kesalahan bukan pada yang menulis ini, tetapi hmm… yuk lanjut!

Step I

Potong-potong cokelat hingga menjadi potongan kecil agar mudah meleleh ketika di-tim. Apa itu di-tim? Berikut aku jelaskan cara tim yang benar. Rebus air di panci dan taruh mangkok besi yang telah terisi margarine (atau mangkok dari bahan lain yang tahan panas) di dalam rebusan air tersebut. Panas air mendidih tersebut membuat margarine meleleh. Bila sudah meleleh, masukkan potongan-potongan cokelat. Aduk hingga cokelat dan margarine telah tercampur rata. Oh ya, hati-hati saat mengaduk. Jangan terlalu kuat karena air yang diluar (panci) dapat masuk ke dalam mangkok dan merusak adonan. Terakhir, angkat dan biarkan dingin sebentar.

Step II

Di tempat terpisah, kocok telur dan gula dengan mixer kecepatan sedang sampai telur mengembang dan lembut. Warna telur tersebut biasanya berubah menjadi kuning muda. Campurkan tepung terigu, vanili dan sedikit garam. Lalu masukkan ke dalam telur yang telah dikocok tersebut sedikit demi sedikit agar tidak menggumpal. Kalo males dan ngotot sekali banyak masukinnya, bakalan repot sendiri mengaduk-aduk adonannya sampai benar-benar rata. Percayalah! Setelah itu, masukkan cokelat yang telah di-tim ke dalam adonan. Aduk sampai rata. Tuangkan ke dalam loyang. Untuk adonan ini, cukup di loyang berukuran 20×9,5×6 cm. Kemudian taburi hiasan chocochips/kacang almond/kacang kenari/keju parut di atas adonan.

Step III

Terakhir, panggang adonan di oven pada suhu 170° C selama ±45 menit. Dan voilaa!

Image

Mungkin bagi kalian, kuenya terlihat gosong. Tapi aslinya ga kok, beneran bukan nutup-nutupin. Rasanya enak banget, apalagi pas masih panas. Cokelatnya lumer di mulut. Nyum!

Rindu

Sesak itu kala rindu memuncak namun tiada yang bisa diperbuat selain menghitung detik-detik kosong tanpa dirinya.

Jakarta Tenggelam?

Dapat kupastikan itu akan menjadi headline berita hari ini maupun besok. Ya, ibukota negaraku sedang kebanjiran. Hujan deras yang turun dalam kurun waktu yang cukup lama tidak lagi dapat diresap oleh tanah-tanah Jakarta yang sekarang kebanyakan tertutup beton. Aliran-aliran air pun sudah beralih fungsi menjadi tempat sampah. Air bingung kemana ia harus mengalir. Akibatnya, ia memilih untuk diam di atas tanah-tanah tersebut bersama ratusan(atau bahkan ribuan)-meter-kubik temannya yang lain. Ia bahkan tidak memilih-milih tempat. Istana Negara pun turut menjadi tongkrongannya. Ah malu rasanya!

Istana Negara banjir setinggi 30 cm
(sumber: kompas.com)

Ya, hari ini, 17 Januari 2013, Jakarta lumpuh. Siapa yang salah? Hmm, banyak orang menyalahkan pemerintah dan saling lempar tanggung jawab. Memang lebih mudah untuk menyalahkan orang lain. Akan tetapi, coba lihat di sekelilingmu. Lihat taman depan rumahmu, apakah sudah tidak ada lagi daerah resapan? Lihat selokan depan rumahmu, apakah ia sudah penuh dengan sampah? Coba ingat-ingat lagi, kapan terakhir kamu buang sampah pada tempat sampah? Atau mungkin kamu lebih mudah mengingat terakhir kali melempar sampah begitu saja ke jalanan, trotoar, jembatan penyebrangan, kereta dan lain sebagainya. Sadarkah kalian bahwa sampah-sampah tersebut dapat saja terbang terbawa angin, atau memang sengaja disapu, ke selokan dan mengalir ke sungai. Ya kamu tahu sendiri kan apa yang terjadi bila sungai penuh sampah.

Aku juga tidak menyalahkan banjir itu sepenuhnya salah dari sungai yang penuh sampah. Sistem drainase di Jakarta, menurut pengamatanku sebagai orang awam, juga memperburuk keadaan. Air-air yang tergenang itu tidak dapat mengalir karena beberapa selokan buntu, tidak mengalir kemana-mana. Hal tersebut menyebabkan air stuck. Bahkan di beberapa titik, aku melihat tidak terdapat selokan air. Aku tidak tahu, siapa yang bertanggung jawab terhadap keberadaan selokan air tersebut. Apakah pemilik lahan atau dinas PU?

Ah, sungguh kompleks masalah ini. Intinya sih, mari lihat sekeliling dan coba perbaiki hal-hal yang bisa diperbaiki. Jangan nunggu orang lain mulu. Semoga dari masalah ini, kita belajar bagaimana menghargai lingkungan. Salam lestari!

Awal Perjalanan Skripsi

Halooo,

Seharusnya postingan ini letaknya sebelum postingan “KAI, Kereta dan Pedagang”. Tetapi, ntah kenapa postingan ini tiba-tiba hilang, bahkan di draft pun tidak ada. Hmm, tidak apa, akan ku-post lagi karena postingan ini cukup penting untuk merekam perjalanan semester akhir aku kuliah.

Kemarin aku disibukkan oleh skripsi. Hal yang membuatku dilema semester kemarin: apakah sebaiknya aku skripsi tetapi aku takut tidak dapat menyelesaikannya atau non skripsi tetapi nanti lanjut S2-nya susah karena terbatas, tidak semua universitas dan jurusan menerima mahasiswa yang tidak menulis skripsi. Akhirnya Desember kemarin, aku telah memantapkan hati untuk menulis skripsi sebagai masterpiece hasil kuliah empat tahun di Sastra Jerman UI. Aku memilih linguistik sebagai bidang yang akan aku analisis. Selain karena melihat nilai-nilaiku, aku memang menyukai linguistik, terutama mengenai tata bahasa. Awalnya aku sempat bingung dan ragu dengan tema yang telah kupilih pada saat kuliah Metodologi Penelitian semester 6 kemarin (untuk mengetahui tema aku itu, sila lihat posting 2012: My Year) karena aku merasa kurang sreg dan juga data pendukung yang tidak banyak. Takutnya bila tidak klik di hati, aku malah ogah-ogahan untuk menyelesaikan skripsinya. Oleh karena itu, akhirnya aku banting setir ke tema yang jauh berbeda tetapi masih di bidang linguistik juga, yakni Pengadaptasian Novel ke dalam Komik. Aku mendapat inspirasi untuk beralih ke tema ini ketika aku sedang mengunjungi perpustakaan Goethe. Disana tiba-tiba sebuah buku bersinar dari kejauhan. Ketika aku dekati, rupanya itu sebuah komik adaptasi dari novel yang cukup fenomenal karangan Gudrun Pausewang: “Die Wolke”. Dan cringg, tema itu muncul di kepala. Alhamdulillah.

Siang kemarin, aku bertemu dengan dosen pembimbingku untuk menanyakan apakah tema yang aku pilih tersebut dapat dilanjutkan atau sebaiknya aku pilih tema yang lain saja. Degdegkan sekali. Aku sampai berulang kali salah mengucapkan kata adaptasi menjadi adatasi akdatsi saking gugup (dan segan) dengan pembimbingku tersebut. Hahaha! Dan alhamdulillah aku mendapatkan lampu hijau untuk meneruskan penelitian mengenai topik tersebyt. Ia juga memberikan masukan mengenai buku-buku yang harus aku baca, teori yang harus aku pelajari, fokus penelitian dan analisis apa yang harus aku lakukan di tahap pertama. Ahh, senang sekali rasanya!

Sepulang dari menghadap dosen pembimbingku, aku menuju perpustakaan Goethe Institut untuk mencari korpus data yang kurang dengan tergesa-gesa karena saat itu waktu telah menunjukkan pukul 16.30 sedangkan perpustakaan tutup pukul 19.00. Namun, ternyata kereta lagi bermasalah akibat ditutupnya rel di Stasiun Pondok Cina (mengenai masalah lebih lanjutnya bisa dibaca di postingan sebelum ini). Mau marah sebenarnya, tetapi akhirnya aku memilih ikhlas dan menerima “gangguan” tersebut sebagai ujian pertama untuk melihat keseriusanku terhadap skripsi ini. Untungnya tidak lama kemudian, kereta arah Bogor yang tertahan di Stasiun UI dipindahkan ke rel arah Jakarta, dan aku dapat sampai di Goethe kurang dari 1 jam. Dan beruntungnya lagi, novel yang aku cari sedang tidak dipinjam sehingga aku dapat langsung meminjamnya dan kembali lagi ke Depok untuk memfotokopinya di Cano agar mirip seperti buku aslinya, dan bisa dicoret-coret warna-warni. Dan voila, inilah buku-bukunya:

(foto menyusul, bukunya ketinggalan, hehe)

Di perjalanan pulang, kereta yang aku tumpangi penuh sekali, dampak dari gangguan tadi siang. Mungkin bila aku sebuah kaleng, keluar dari kereta aku sudah gepeng dan penyok. Akan tetapi, lagi-lagi aku tanggapi masalah tersebut sebagai ujian  dalam proses “penyekripsian” ini, hehe.

Walaupun badan lelah dan otok kencang karena harus bolak balik Jakarta-Depok, tetapi aku senang sekali akhirnya aku bisa memulai skripsi ini. Aku semangat sekali untuk menyelesaikan Bab I dan analisis data sebelum liburan berakhir. Aku yakin aku bisa menyelesaikan masterpiece ini dengan baik dan tepat waktu. Bismillah.

KAI, Kereta, dan Pedagang

Untuk mencari korpus data skripsi seperti yang telah dijelaskan di postingan sebelumnya, setelah selesai menghadap dosen pembimbing aku segera ke perpustakaan Goethe Institut karena melihat saat itu sudah pukul 16.30 dan perpustakaan tutup pukul 19.00. Namun, ketika aku sampai di stasiun ui, ternyata kereta tidak jalan karena adanya demo menuntut dialog akibat penggusuran sepihak sehingga rel di Stasiun Pondok Cina (Pocin) ditutup oleh massa dari jam 2 siang tadi. Tindakan tersebut, yang aku kutip dari beberapa teman di twitter, disebabkan oleh PT. KAI yang tidak mau berdialog dengan pedagang Kios di areal stasiun Pocin. Pihak KAI tidak memberikan surat pemberitahuan sebelumnya sehingga pedagang merasa tidak adil karena mereka telah berjualan disana bertahun-tahun. Kekesalan pedagang tersebut memuncak pada aksi penutupan rel jalur Jakarta-Bogor dan Bogor-Jakarta dari jam 14.00 sampai sore. Pedagang-pedagang tersebut dibantu oleh mahasiswa UI dan beberapa universitas lainnya.

Malam hari aku mendapatkan broadcast message yang memberi tahu bahwa sebaiknya tidak menggunakan kereta sampai waktu yang tidak ditentukan sebagai aksi solidaritas. Hmm, aku bukannya tidak peduli terhadap para pedagang yang digusur paksa, aku juga merasa bergantung dan perlu pada mereka. Akan tetapi, bila caranya begini simpatiku terhadap mereka akan berkurang atau malah hilang. Kereta itu angkutan massal dan ribuan bahkan ratusan ribu orang bergantung sama kereta, mulai dari pekerjaan, sekolah, keluarga dan banyak hal lainnya. PT. KAI mau naikin harga pun, masyarakat akan tetap menggunakan kereta karena mereka memang butuh itu. Jadi, rasanya tidak masuk akal bila meminta untuk tidak menggunakan kereta untuk sementara waktu. Apalagi aksi penutupan rel kemarin. Itu merugikan banyak pihak yang tidak tahu menahu dan tidak bertanggung jawab akan permasalahan tersebut. Bila memang ingin mengajak dialog, datangi kantornya, demo disana.

Aku tahu, bahwa kereta, penumpang dan pedagang tidak dapat dipisahkan. Kereta butuh penumpang, dan penumpang butuh kereta. Pedagang butuh pembeli, yang notabenenya adalah penumpang kereta, dan penumpang juga butuh pedagang. Ntah untuk mengganjal perut ketika lapar dan kereta tidak kunjung datang atau untuk memfotokopi berkas-berkas. Akan tetapi, bukankah kita sudah diajarkan di perguruan tinggi untuk menggunakan logika dan akal sehat? Bukankah perguruan tinggi telah membuka dan memperluas pemikiran kita? Bukankah kita sebagai mahasiswa tidak seharusnya membalas kekerasan, melainkan dengan pemikiran?