Menghapus atau Melepas Tangan?

Halo, akhirnya aku sempat menulis lagi. Sebulan ini aku tidak punya waktu kosong, bahkan untuk diri sendiri. Dua program dari dua organisasi yang berbeda serta satu kompetisi bahkan membuatku hampir 3 minggu tidak mengerjakan skripsi. Padahal tinggal 10 minggu tersisa, dan target awal akhir Maret selesai bab 2. Ya, rencana terkadang memang tidak harus dipaksakan untuk berjalan.

Banyak sekali yang aku ingin ceritakan, mulai dari hal pribadi sampai isu terhangat di Jakarta, Indonesia maupun dunia. Kemarin aku ingin sekali menyampaikan argumen mengenai kebijakan PT. KAI menghapuskan KRL Ekonomi. Tapi, ada topik yang lebih penting dan menyangkut masa depan bangsa Indonesia. Yap, pendidikan dan kurikulum! Kebetulan kemarin aku mengikuti Seminar Pro Kontra Kurikulum 2013.

Tahun 2013 ini, Departemen Pendidikan berusaha memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia. Mereka “memperbaharui” serta menyesuaikan kurikulum 2006 agar dapat diterapkan pada masa ini. Dalam kurikulum baru ini, beberapa poin yang diganti atau bahkan dihapus untuk memfokuskan pada empat kompentensi dasar,  yaitu spiritual, sosial, pengetahuan dan ketrampilan.

Hal yang menarik adalah dihapuskannya pelajaran Teknologi Informatika dan Komputer (TIK). Alasan yang disampaikan oleh wakil dari Departemen Pendidikan pada saat seminar lalu adalah penghapusan TIK disebabkan tidak dapat diterapkannya pelajaran tersebut di seluruh Indonesia. Beberapa daerah bahkan belum mempunyai listrik, jadi sulit untuk mewajibkan kelas TIK tersebut. Akan tetapi, bagi sekolah-sekolah yang mampu tetap dapat menjalankan kelas tersebut. Aku tergelitik mendengar pernyataan tersebut. Pemerintah seolah lepas tangan dalam menangani permasalahan “ketidakterjangkauan“ itu.

Bila kelas TIK dihapuskan, maka pemerintah tidak akan mengusahakan sarana prasarana komputer dan sebagainya di daerah terpencil yang sulit dijangkau tersebut. Sedangkan di sekolah-sekolah di daerah maju dan sudah berkembang, murid-muridnya tetap dapat menikmati fasilitas yang sudah sewajarnya ada di setiap sekolah. Hal itu akan semakin meninggikan jurang pemisah antara daerah yang sudah maju dengan daerah tertinggal. Padahal dalam era globalisasi dan teknologi seperti saat ini, kemampuan akan teknologi  merupakan kemampuan dasar. Kemampuan tersebut sudah sepatutnya dikuasai oleh setiap anak bangsa agar Indonesia tidak terus menjadi bangsa yang tertinggal.

Sebagai penutup, aku mengutip ujaran salah satu dosen filsafat yang menjadi pembicara seminar tersebut, “Karakter yang terbentuk dari kurikulum yang dibuat ini bukan untuk beradaptasi pada masa depan“. Berbanding terbalik dari tujuan awal peremajaan kurikulum ini, yaitu menyesuaikan dengan kondisi zaman. Ya, semoga bisa direnungkan kembali.

If It Means To Be

A love story will always win my heart. Moreover it’s a short animation movie. In a short time, this film can tell you if you really want it badly, try hardly. And universe will conspire to make it happens. Xoxo.

Fenomena Perbedaan Cuaca, Anomalikah?

Pertengahan Januari lalu, seperti yang kita ketahui, beberapa titik di Jakarta tergenang akibat luapan air yang tidak dapat lagi di tampung tanah. Tinggi luapan itu tidak bisa dikatakan rendah, karena di beberapa titik tingginya mencapai  3 meter. Cukup untuk menenggelamkan  rumah sampai ke atapnya. Seperti yang telah kujelaskan di postingan beberapa minggu lalu, luapan tersebut terjadi akibat curah hujan yang turun di daerah Jakarta dan sekitarnya sangat tinggi, serta daya serap tanah terhadap air sangat rendah. Keadaan tersebut berbanding terbalik dengan kondisi di Nusa Tenggara Timur. Di saat yang bersamaan, NTT, lebih tepatnya di Kabupaten Timor Tengah Selatan, mengalami kekeringan yang sangat parah. Masyarakat disana terancam kekurangan gizi karena petani gagal panem akibat kekeringan yang sangat panjang.

Perbedaan keadaan cuaca tersebut membuatku penasaran. Dengan letak yang tidak terlalu jauh, kondisi Jakarta – Nusa Tenggara tidak akan berbeda jauh pula, seharusnya. Rasa penasaran itu akhirnya terjawab ketika aku menanyakan pada Pak Sobirin, seorang dosen yang kompeten di perikliman.Menurut dia, yang telah aku rangkum sesuai pemahaman, kejadian tersebut akibat dari fenomena global yang sedang terjadi pada saat itu.

Ketika pergantian tahun, antara Desember 2012 dan Januari 2013, terjadi perbedaan cuaca yang sangat ekstrim di kedua belahan dunia. Di belahan dunia utara, terjadi gelombang dingin yang sangat ekstrim. Suhu di Moskow biasanya paling rendah pada titik -40an derajat celcius, kemarin suhunya mencapai -50 derajat celcius. Sungai Han di Korea Selatan biasanya pada musim dingin tidak pernah membeku, tetapi saat itu membeku. Gelombang dingin ini menyebabkan tekanan udara semakin tinggi. Sedangkan belahan bumi bagian selatan mengalami gelombang panas yang sangat ekstrim dengan tekanan udara yang sangat rendah.

Perbedaan tekanan udara yang sangat tinggi ini menyebabkan angin bergerak ke arah selatan, ke tekanan rendah, dengan membawa hujan frontal linear dingin. Ciri hujan tersebut adalah curah hujannya tinggi, tetapi jangkauan hanya 100-150 km saja. Hal tersebut juga menyebabkan banjir yang terjadi di Pulau Jawa terjadi bergiliran, dimulai dari Banten, Jakarta, Cirebon dan seterusnya. Namun, di Nusa Tenggara akibat pengaruh gelombang panas yang cukup kuat dari Australia, maka awan yang mengandung hujan frontal linear dingin tersebut yang melewati Nusa Tenggara Timur tidak turun menjadi hujan. Oleh karena itu, disana terjadi kekeringan.

Begitulah kira-kira alasan mengapa terjadi perbedaan yang cukup signifikan antara dua daerah yang sama-sama terletak di Kepulauan Indonesia ini. Cukup menjawab, atau malah sangat menjawab sepertinya. Akan tetapi, sampai saat ini aku tidak tahu apakah fenomena tersebut disebabkan oleh perubahan iklim atau memang fenomena alam biasa yang terjadi secara siklus. Aku akan mencari tahu lebih lanjut semester ini, di kelas Fenomena dan Dampak Perubahan Iklim.

Jumat Sehat!

Renang berenang. Hari ini aku berenang bersama Olivia.

Kaki

Setelah mencari info mengenai lokasi kolam renang terdekat, akhirnya aku menemukan sebuah kolam renang di Kompleks BIN Pasar Minggu Baru, dekat sekali dengan tempatku! Tiket masuknya pun sangat terjangkau, hanya Rp20.000 untuk hari biasa dan Rp23.000 untuk hari libur. Namun sayangnya, kolam renang ini tidak buka setiap hari karena ada beberapa hari yang dipakai untuk dharma wanita BIN. Tidak apa, kan aku berenangnya palingan 1 minggu sekali.

IMAG5723

Ketika sampai di gerbang depan Masjid BIN, aku tidak melihat tanda ada kolam renang disana. Hanya terlihat sebuah TK dari kejauhan. Dalam hati, “Wah, jangan-jangan ini kolam renang kecil buat anak-anak”. Tapi ternyata aku salah besar!

kolam renang

Dengan luas kolam renang yang seperti ini, akhirnya otot bisep atau trisep lenganku dipergunakan juga dengan maksimal hari ini. 30 bolak balik cukup mengencangkan otot perut yang selama 3 bulan ini menggelambir. Tinggi kolam renangnya bervariasi, dari 50 cm sampai 300 m. Dari hobbit sampai troll bisa berenang disini.

Dan inii si Olivia, tidak di darat tidak di air, sama-sama diorientasi arah! Dia awalnya berada di sebelah kananku, eh tiba-tiba udah di sebelah kiri. Heran.

Olip

Saat kami berenang, ternyata anak-anak cimit-cimit lagi latihan berenang juga! Aaa lucuuu liat perut bulat mereka pake baju renang kyaaa.

Anak anak

Senangnya saat melihat perut mulai rata setelah berenang (padahal cuma khayalan belaka). Aku akan sering-sering kesini ah!

K2N UI 2013

Brace yourself, dear UI academicians! K2N UI is coming up again this year. All places they offer are in East Indonesia. That is so fascinating, isn’t? Hurry, write your best essay because they are not accept it over March 16th. For further details, you can directly see it on ui official website ui.ac.id. Ton of lucks for you!