Jakarta Tenggelam?

Dapat kupastikan itu akan menjadi headline berita hari ini maupun besok. Ya, ibukota negaraku sedang kebanjiran. Hujan deras yang turun dalam kurun waktu yang cukup lama tidak lagi dapat diresap oleh tanah-tanah Jakarta yang sekarang kebanyakan tertutup beton. Aliran-aliran air pun sudah beralih fungsi menjadi tempat sampah. Air bingung kemana ia harus mengalir. Akibatnya, ia memilih untuk diam di atas tanah-tanah tersebut bersama ratusan(atau bahkan ribuan)-meter-kubik temannya yang lain. Ia bahkan tidak memilih-milih tempat. Istana Negara pun turut menjadi tongkrongannya. Ah malu rasanya!

Istana Negara banjir setinggi 30 cm
(sumber: kompas.com)

Ya, hari ini, 17 Januari 2013, Jakarta lumpuh. Siapa yang salah? Hmm, banyak orang menyalahkan pemerintah dan saling lempar tanggung jawab. Memang lebih mudah untuk menyalahkan orang lain. Akan tetapi, coba lihat di sekelilingmu. Lihat taman depan rumahmu, apakah sudah tidak ada lagi daerah resapan? Lihat selokan depan rumahmu, apakah ia sudah penuh dengan sampah? Coba ingat-ingat lagi, kapan terakhir kamu buang sampah pada tempat sampah? Atau mungkin kamu lebih mudah mengingat terakhir kali melempar sampah begitu saja ke jalanan, trotoar, jembatan penyebrangan, kereta dan lain sebagainya. Sadarkah kalian bahwa sampah-sampah tersebut dapat saja terbang terbawa angin, atau memang sengaja disapu, ke selokan dan mengalir ke sungai. Ya kamu tahu sendiri kan apa yang terjadi bila sungai penuh sampah.

Aku juga tidak menyalahkan banjir itu sepenuhnya salah dari sungai yang penuh sampah. Sistem drainase di Jakarta, menurut pengamatanku sebagai orang awam, juga memperburuk keadaan. Air-air yang tergenang itu tidak dapat mengalir karena beberapa selokan buntu, tidak mengalir kemana-mana. Hal tersebut menyebabkan air stuck. Bahkan di beberapa titik, aku melihat tidak terdapat selokan air. Aku tidak tahu, siapa yang bertanggung jawab terhadap keberadaan selokan air tersebut. Apakah pemilik lahan atau dinas PU?

Ah, sungguh kompleks masalah ini. Intinya sih, mari lihat sekeliling dan coba perbaiki hal-hal yang bisa diperbaiki. Jangan nunggu orang lain mulu. Semoga dari masalah ini, kita belajar bagaimana menghargai lingkungan. Salam lestari!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s