Lain di Mulut, Lain di Kelakuan.

Aku akan menceritakan sebuah cerita mengerikan. Mengerikan disini bukan dalam arti horor yang ada hantu-hantunya loh. Maksud mengerikan disini bahkan lebih seram dibandingkan hantu-hantu itu, yakni sifat dasar kebanyakan manusia, bermuka dua. Entah apakah aku termasuk di dalamnya atau tidak. Tapi aku berharap tidak.
Pertama kali bertemu dengan orang seperti ini waktu aku SMA. Dulu waktu SMA, aku sering sekali menjadi “tong sampah” teman-temanku. Mereka bercerita banyak sekali. Dari situlah aku menemukan hampir setengahnya yang bermuka dua. Kemarin si A berkeluh kesah mengenai si B karena si B nyebelin sampe ke ubun-ubun padahal mereka teman dekat, dekat sekali malah. Tapi hari ini si A berlagak seperti dia tidak pernah cerita begitu ke aku. Hmmm.
Lalu pas kuliah, aku bertemu banyak sekali tipe-tipe yang seperti itu. Bahkan bermuka dua-nya ke aku. Dibelakang dia ngomongin aku, eh tapi di depan aku manis sekali. Kenapa aku bisa tau mereka ngomongin aku di belakang? Karena aku bisa membaca mereka. Seriously I can read people, do you believe me? I just pretend there’s nothing happen. Aku cuma berlagak seolah-olah tidak tau. Tapi sebenarnya aku tau, tau banyak malah, hahaha. Kadang berlagak tidak tau adalah jalan terbaik menghadapi orang-orang seperti itu.
Tapi yang paling parah itu teman kerja, sungguh. Mengerikan sekali melihatnya. Waktu perpisahan deputi tokoku, kami makan-makan sepulang kerja. Lalu si A cerita ke si B di depanku kalo dia tidak mau satu shift sama si C. A bilang si C brengsek, dia maunya satu shift sama si B aja. Tapi besoknya, pas ditanya si C mau ga dia satu shift sama si C, eh dia jawabnya “hayooo, kita kan tim yang keren”. Aku hanya bisa melongo melihatnya. Tapi aku sudah tidak terlalu kaget lagi. Oh iya satu lagi, teman kerja itu tidak bisa dipercaya. Mereka punya urusan dan tujuan masing-masing, dan besar kemungkinan untuk saling sikut.
Sekarang aku tau mengapa orang bilang dunia itu kejam. Ya karena begini. Satu cara yang aku tau untuk bertahan adalah menjadi mandiri dan tidak bergantung pada yang lain. Disinilah mulai mengenal memakan atau dimakan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s